GLAY merupakan salah satu grup musik kenamaan yang telah malang melintang berkiprah dalam belantika permusikan di Jepang. Di samping itu, para personel GLAY juga memiliki proyek masing-masing selain kesibukan mereka dalam GLAY. Salah satunya adalah gitaris sekaligus ketua dari GLAY, TAKURO yang baru saja merilis album solo terbarunya yang berjudul The Sound of Life pada 14 Desember 2022 lalu.

Menurut TAKURO, album The Sound of Life ini merupakan album “healing” atau “penyembuhan”. TAKURO sengaja membuatnya untuk “mengobati” dunia yang semakin gila dengan banyaknya masalah, seperti pandemi hingga perang yang membuat kehidupan banyak orang dihinggapi kecemasan dan keputusasaan. Karenanya ia berharap album ini dapat membantu “menyembuhkan” publik dengan musiknya. TAKURO sendiri menggubah album The Sound of Life ini hanya dengan menggunakan piano, dan hanya membutuhkan waktu 4 hari untuk membuatnya, bekerjasama dengan keyboardist pemenang Grammy Award, Jon Gilutin yang merekam dan mengaransemennya.

KAORI Nusantara mendapatkan kehormatan untuk mewawancarai TAKURO (GLAY) sehubungan dengan album solo The Sound if Life yang memiliki visi dan misi yang “mulia” ini. Mari simak wawancara KAORI Nusantara bersama TAKURO:

KAORI: Setelah mendengarkan The Sound of Life, album terbaru anda ini terasa unik. Di satu sisi terdengar “sedih”, namun di sisi lain juga terasa “bersemangat”. Bagaimana tantangannya menggubah lagu-lagu dengan emosi seperti itu?

TAKURO: Kesan pertama Anda benar. Ketika saya mulai menulis lagu-lagu untuk album ini, ada banyak kesedihan yang ingin saya sampaikan, tetapi pada akhir rekaman, saya merasa telah mendapatkan semangat. Itu adalah pengalaman yang menyembuhkan bagi saya, dan saya berharap bisa seperti itu bagi orang lain.

KAORI: Beberapa lagu memiliki judul yang terasa melankolik namun juga kuat, seperti contohnya “Red Sky”, “In the Twilight of Life”, dan “Pray for Ukraine”. Bisakah anda menceritakan mengapa Anda memilih untuk menamai lagu-lagu tersebut? Apa saja cerita di baliknya?

TAKURO: Seperti yang Anda ketahui, perang di Ukraina dimulai pada saat yang sama ketika saya mulai menulis lagu-lagu ini. Simpati saya tidak pernah terletak pada ideologi politik apa pun, tetapi saya memiliki simpati yang dalam dengan orang-orang yang mengalami kesulitan akibat perang, seperti seorang ibu yang mengirimkan putranya ke medan perang, penderitaan dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perang.

KAORI: Lagu “In the Twilight of Life” merupakan satu-satunya lagu dengan vokal. Apakah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan liriknya?

TAKURO: CINTA. Di manapun Anda berada dalam kehidupan, kita tidak boleh lupa bahwa ada cinta dalam hidup kita. Bahkan di saat terisolasi dan sedih, selalu ada seseorang yang dapat kita tuju. Kita selalu dapat menjangkau orang lain untuk mendapatkan dukungan.

KAORI: Satu lagi yang memengaruhi album ini adalah pandemi COVID-19. Bagaimana pandemi memengaruhi anda sebagai seorang musisi?

TAKURO: Secara pribadi, saya merasa sangat tidak berdaya pada waktu itu. Saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu saya lakukan, tetapi saya tidak mampu melakukannya. Saya rasa banyak orang yang merasakan hal tersebut. Saya ingin menulis lagu yang mengekspresikan ketidakberdayaan itu. Saya juga ingin mengangkat tema terisolasi yang dialami banyak orang dalam kehidupan mereka selama pandemi. Ini bisa menjadi perasaan yang menghancurkan, dan saya ingin menawarkan alternatif yang lebih positif dan menggembirakan.

KAORI: Anda sempat bilang dalam sebuah interview, bahwa Anda merasa lebih nyaman sebagai komposer daripada gitaris. Kenapa?

TAKURO: Saya merasa ada tiga wajah dalam karya saya: penulis lirik, komposer, dan gitaris. Orang-orang selalu memuji lirik saya, tetapi saya pikir saya merasa lebih baik menjadi seorang komposer. Menciptakan melodi adalah sesuatu yang datang secara alami kepada saya. Sebagai pemain gitar, saya selalu merasa bahwa saya sedang dalam proses, dan untungnya, saya memiliki gitaris yang hebat di band saya, jadi saya tidak harus menjadi yang terbaik dalam hal itu.

KAORI: Ilustrasi darl album ini dibuat oleh vokalis GLAY. Apa anda sendiri yang memilihnya untuk ini? Apa alasannya?

TAKURO: Ya, tentu saja saya memilih dia secara pribadi untuk mengerjakan karya seni ini. Kami tumbuh besar di kota yang sama dan melihat hal-hal yang sama saat kami tumbuh dewasa, perubahan yang sama. Ia melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menangkap gambar-gambar itu secara visual, dan tentu saja, ini merupakan pujian yang luar biasa bagi visi saya sendiri. Sebenarnya, Teru telah membuat banyak lukisan baru-baru ini, dan berencana memamerkan karyanya dalam waktu dekat.

KAORI: Apa yang membedakan ketika membuat komposisi untuk piano dan komposisi untuk gitar?

TAKURO: Dengan gitar, saya terbiasa dengan chord dan suara yang bisa saya buat. Dengan piano, saya selalu menemukan sesuatu yang baru: chord baru dan teknik baru untuk menciptakan suara. Sungguh menyenangkan bagi saya untuk memiliki kesempatan untuk membuat album baru yang seluruhnya menggunakan piano.

KAORI: Bagaimana TAKURO memandang apa yang terjadi di dunia saat ini?

TAKURO: Saya pikir dunia sedang menghadapi beberapa masalah besar. Kita perlu mengambil langkah positif menuju persatuan dan menghindari perpecahan serta kesalahpahaman tidak hanya antar negara, tetapi juga dalam masyarakat dan kehidupan sosial kita.

KAORI: Ketika membuat lagu yang memiliki lirik dan lagu yang tidak ada liriknya pasti berbeda. Apa yang membedakan ketika membuat lagu yang ada liriknya dengan yang tidak?

TAKURO: Ketika menulis lagu dengan lirik, sangat membantu jika memiliki vokalis yang hebat, dan saya selalu mengingat Teru ketika menulis lagu seperti itu. Dia memberi saya kerangka kerja tertentu. Menulis lagu tanpa lirik, dan tanpa kerangka kerja vokalis, memberikan saya lebih banyak kebebasan secara musik. Kemungkinannya benar-benar tidak terbatas. Namun, di saat yang sama, bekerja tanpa kerangka kerja apapun bisa sedikit menakutkan.

KAORI: Untuk membuat album ini, hal apa yang TAKURO persiapkan karena pastinya album ini berbeda dengan album yang pasti ada liriknya?

TAKURO: Pada album ini, saya membuat keputusan secara sadar untuk menciptakan suara-suara alami seperti air, angin dan satwa liar. Saya pikir ini benar-benar berhubungan dengan aspek penyembuhan dari album ini. Saya menyadari bahwa alam adalah musisi terbaik, dan orang-orang dapat disembuhkan melalui musik alami tersebut.

KAORI: Di wawancara sebelumnya dengan JRockNews, TAKURO mengatakan jika ingin album ini menjadi album pengantar tidur bagi orang-orang yang mendengarkannya. Kenapa TAKURO ingin sekali orang-orang mendengarkan album ini ketika tidur?

TAKURO: Tidur nyenyak sangat penting bagi kesehatan mental dan fisik. Kita semua membutuhkan pelarian semacam itu dari kehidupan kita yang bising, dan kita semua bebas dari penderitaan dan rasa sakit dalam mimpi. Tujuan saya adalah untuk menciptakan suara yang membantu orang masuk ke dalam kondisi tersebut dan menciptakan malam yang nyenyak untuk semua orang.

KAORI: Pertanyaan terakhir: Ada pesan bagi para penggemar Anda di Indonesia?

TAKURO: Kami berencana untuk mengadakan konser di Indonesia dalam waktu dekat, dan saya sangat menantikan untuk bertemu dengan semua teman dan penggemar kami. Saya juga berharap bisa memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan beberapa musisi hebat di Indonesia. Selalu menyenangkan bertemu dan berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki ide yang sama tentang cinta dan perdamaian.

| Oleh Dody Kusumanto | Dibantu oleh Dany Muhammad dan Lutfhi Suryanda

Baca juga berita dan artikel BeritaOtaku yang lain di Google News, Terima kasih.