Peringatan: Ulasan bersifat spoiler!

Selamat datang dan kembali lagi bersama saya dalam rublik mengulas novel visual. Kali ini saya akan mengulas sebuah novel visual lawas yang diproduksi oleh salah satu brand novel visual ternama yaitu Visual Art’s, sambutlah ALMA!

Alma ~Zutto Soba ni…~ (ALMA ~ずっとそばに…~ atau ditulis dengan ALMA saja) adalah sebuah novel visual rilisan Bonbee yang merupakan salah satu studio novel visual di bawah naungan Visual Art’s. Alma pertama kali dirilis pada 2 Mei 2003 untuk rating 18 tahun ke atas. Versi Complete Edition dari Alma dengan tambahan beberapa skrip dirilis setahun setelahnya pada 26 November 2004. Alma dikerjakan oleh beberapa orang di antaranya, Kai (Summer Pockets, Tsuki no Kanata de Aimashou, dll) sebagai penulis skenario sekaligus penulis lirik untuk lagu pembuka dan insert song yang dinyanyikan oleh Kotoko dengan judul Undying Love dan Zutto Soba ni. Matra Milan sebagai ilustrator CG dan pendesain karakter dalam Alma dan musik yang dikerjakan oleh F-ACE, Kazuya Takase, Magome Togoshi dan VWN.

Cerita dari Alma bermulai pada kakak berakdir Tozaki yang bernama Takumi dan Yui yang kehilangan orang tua mereka karena kecelakaan lalu lintas 3 tahun sebelum cerita dimulai. Meskipun kehilangan orang tua mereka, kakak beradik ini saling membantu satu sama lain untuk mengisi kekosongan hati mereka. Menjalani kehidupan mereka layaknya seperti biasa di antaranya itu kakak beradik Tozaki dibantu oleh teman-teman mereka, Kanae Mitsuki, osananajimi kakak beradik Tozaki yang cerdas dan populer di sekolah; Kyou Asamiya, teman dari kakak beradik Tozaki yang ‘biasa’ mukul Takumi; Suzu Shidou, miko dari kuil latar tempat Alma sekaligus gadis pemalu serta kouhai dari Takumi; Madoka Araragi, gadis misterius yang baru saja pindah ke sekolah Takumi dkk; Kaede Kujou dan Yuuki Oribe yang merupakan sohib dari Takumi.

*  ⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒⌒  *

Takumi dan Kanae (©Bonbee/Visual Art’s)

Alma dibuka dengan resep khas Visual Art’s atau sebut saja Key karena penulisnya juga merupakan staf dari Key, yaitu kisah komedi sehari-hari yang membuat pemain tertawa kemudian diakhiri dengan cerita sedih membuat pemain depresi. Berbeda dengan kisah Key yang berakhir bahagia, Alma disajikan dengan cerita dramatis berakhir depresi (bisa dikatakan bukan Nakige tapi jadi Utsuge). Mengapa? Karena latar beberapa heroine yang berhubungan dengan Takumi berakhir tragis. Sesuai dengan tagline dari ulasan ini keinginan memiliki harga yang harus dibayar. 🙂

Meskipun terlihat sengsara dan depresi serta tak ada harapan, beberapa rute heroine juga menjadi rute pelarian (baca: zona nyaman) untuk kokoro selamat dari depresi di akhir rute heroine. Tidak hanya itu joke sederhana dan gold pada zamannya cukup menghibur. Rute heroine dalam Alma ini hadir dalam sistem map-moving. Heroine yang ingin dilihat rutenya harus memilih terus heroine yang diincar tetapi yang menarik adalah penghujung rute heroine Madoka yang harus mengeksplor seluruh karakter dalam Alma ini untuk mengetahui kebenaran mengenai apa yang terjadi.

Kyou (©Bonbee/Visual Art’s)

Dan yang paling saya acungi jempol dari Alma ini adalah plot twistnya yang tak dikira, pembawaan alur cerita dengan eksekusi yang tepat meskipun ceritanya dibuat sangat sengsara tidak aman untuk kokoro dan terkadang terlalu berlebihan sengsaranya. (╥﹏╥). Terlebih lagi dalam hal pengorbanan untuk orang yang dikasihi, baik Takumi sang protagonis atau heroine lain (Madoka, Yui, Kanae) melalukan pengorbanan yang memang terasa seperti drama sinetron namun sungguh menyelekit hati (dan tragisnya tiga rute heroine ini). (╥﹏╥)

Madoka (©Bonbee/Visual Art’s)

Secara perkembangan karakter, ada beberapa heroine yang terasa kurang meskipun dalam rute heroine tersebut. Namun beberapa heroine yang memiliki hubungan dalam cerita kejadian sebenarnya sungguhlah ajaib dan menurut saya pribadi sungguhlah bagus. Dan bisa saya katakan Alma ini termasuk salah satu novel visual lawas yang jarang dilirik banyak orang, sebut saja hidden gem. ꉂꉂ(ᵔᗜᵔ*)

Yui (©Bonbee/Visual Art’s)

Sebagai seorang yang menyukai novel visual lawas, ilustrasi yang digambar oleh Matra Milan pun cukup baik dan bisa dikatakan cukup mewah terasa seperti novel visual rilisan 2005-2007-an, dan juga gambar saat adegan tak usah disebut juga lumayan ( ≖ᴗ≖​)ニヤッ. Secara musik tentu saja top, siapa lagi kalau bukan lagu yang dinyanyikan oleh Kotoko dan musik dengan feels ala Key sungguh membuat pemain nostalgia atau bahkan menikmati setiap musiknya sehingga bisa mengikuti cerita seperti mengalaminya sendiri. 🙂

Suzu (©Bonbee/Visual Art’s)

Hal yang kurang dari Alma hanyalah kurangnya konklusi cerita yang begitu cepat selesainya dan akhir cerita yang kurang puas, serta penuh tanda tanya. Tetapi tidak menghentikan saya menyukai karya Alma ini. Alma mengajarkan kita bahwa cinta itu tidak memiliki batas, mencintai sepenuhnya berarti memberikan kebahagiaan untuk mereka yang kita kasihi.

Jadi, kalau dirimu dihadapkan dengan pilihan untul berkorban, apakah dirimu siap? Demi siapakah pengorbananmu? Apakah dirimu siap menerima segalanya? Tetapi ingatlah setiap keinginan (pengorbanan) pasti ada bayarannya.

P.S. Waktunya balik main FF7 di PS1. 🙂

| Oleh Widya Indrawan

Baca juga berita dan artikel BeritaOtaku yang lain di Google News, Terima kasih.