Tanpa membeberkan isi filmnya, Shin Kamen Rider mulai dan berakhir dengan cara yang sama: dengan adegan pahlawan kita, Kamen Rider, di atas kendaraan andalannya.

Lebih spesifiknya, film ini diakhiri dengan Kamen Rider berkendara menuju arah matahari terbenam, adegan yang berasa sempurna untuk menutup film tentang karakter yang dikenal sebagai pengendara bermotor. (Lucunya walaupun begitu, sepengetahuan saya ini adalah pertama kali adanya adegan serupa di sebuah film Kamen Rider.)

Patut dicatat kalau film ini dibuat dalam rangkaian perayaan 50 tahun seri Kamen Rider, dan menonton film ini memang demikian lah rasanya. Shin Kamen Rider tak hanya sekedar reboot atau remake belaka, tetapi juga perayaan setiap aspek yang membuat serial TV Kamen Rider (1971) tetap dikenang fans hingga sekarang. Berbagai hal direka ulang sedemikian rupanya menggunakan teknologi visual efek masa kini, hingga ke detail paling kecil.

Di antara tren berbagai film reboot atau adaptasi baru yang mencoba untuk membuat adaptasi yang “lebih baik” dari film lamanya lewat perubahan drastis, film ini seakan ingin berkata bahwa “Kamen Rider sudah bagus apa adanya”. Tidak lama setelah film dimulai, penonton disuguhi versi baru dari lagu tema klasik “Let’s Go! Rider Kick” yang digubah oleh komposer Taku Iwasaki, mengiringi adegan aksi yang secara gaya visual mirip dengan karya sutradara Hideaki Anno sebelumnya, yaitu Cutie Honey (2004). Sekuens aksi ditutup pada klimaksnya dengan pahlawan kita melakukan jurus “Rider Kick” andalannya, namun dalam tampilan memukau yang rasanya hanya dapat diwujudkan pada rilisan film teatrikal Rider berskala kolosal seperti ini. Shin Kamen Rider menampilan “Rider” apa adanya, dan memang “Rider” sudah bagus dari sananya.

Tidak berlebihan rasanya untuk menyebut Shin Kamen Rider sebagai “surat cinta” untuk Kamen Rider secara keseluruhan. Tiap bagian dari Shin Kamen Rider seakan-akan dibuat secara khusus dengan niat untuk menunjukkan kepada para audiens apa sebenarnya yang menarik pada Kamen Rider. Kamen Rider bertarung di hutan, pegunungan, bendungan, serta kota-kecil Jepang seperti pada serial TV aslinya, dan semua pemandangan tersebut ditampilkan seindah mungkin. Tidak hanya itu, Shin Kamen Rider juga mengambil banyak inspirasi dari komik Kamen Rider orisinal karya Shotaro Ishinomori; serta seri Kamen Rider pada era Showa, Heisei, dan Reiwa. Hasilnya, Shin Kamen Rider mungkin adalah karya yang dapat dibilang paling sukses menangkap “esensi” dari Kamen Rider itu sendiri.

Pencapaian terbesar Shin Kamen Rider mungkin adalah bagaimana film ini dapat menjadi “cukup satu hal yang dapat kamu tonton agar mengerti Kamen Rider”. Tetapi lebih dari itu, dan hal yang bagi saya membuat film ini sekelas dengan film-film superhero terbaik yang pernah ada, adalah bagaimana filmnya menangkap esensi apa arti superhero itu sendiri. Takeshi Hongo di sini, diperankan oleh Sosuke Ikematsu, adalah karakter yang tampil penuh emosi akan kesedihan akan tragedi yang menimpanya di masa lalu, serta beban tugasnya untuk bertarung sebagai Kamen Rider. Ikematsu tampak sangat menjiwai perannya, bahkan hingga terlihat bergetar seakan-akan sulit membendung semua pilu dan lara yang telah dialaminya. Namun, beban dan trauma itu juga lah yang memberinya motivasi untuk tetap berjuang demi kedamaian, walaupun ia menyadari kalau ia mungkin tidak dapat menghindari untuk harus mengambil nyawa lawannya demi tugasnya. Dilema ini tidak pernah dianggap ringan oleh Shin Kamen Rider, dan nuansa melankolis pada heroisme pahlawan kita memberi bobot emosional pada film ini.

Antagonis film ini, organisasi gelap Shocker, memberikan orang-orang “kebahagiaan” melalui cara-cara yang manipulatif dan keji, dan menawarkan janji palsu kalau ada cara cepat dan mudah untuk bebas dari beban-beban kehidupan. Di sisi lain, Kamen Rider berdiri untuk menentang hal tersebut, sebagai simbol bahwa kebahagiaan yang nyata hanya dapat diraih dengan tetap tegar melalui kesedihan dan penderitaan dalam hidup. Inilah rasanya yang dapat membuat “Kamen Rider” menyentuh hati penontonnya, baik dari 50 tahun yang lalu bahkan hingga sekarang. Kamen Rider adalah pahlawan yang mengerti bagaimana rasanya sakit dan sedih, dan karena itulah ia terus berjuang untuk membebaskan orang lain dari penderitaan itu.

Shin Kamen Rider akan tayang secara umum di bioskop Indonesia mulai 30 Juni 2023 dengan judul Shin Masked Rider.

This review can also be read in English.

| Ditulis oleh Caesar E.S

Baca juga berita dan artikel BeritaOtaku yang lain di Google News, Terima kasih.