Ketika kita membicarakan tentang budaya senioritas, kita membuka pintu untuk melihat bagaimana masyarakat membentuk hierarki dan struktur sosial berdasarkan usia, pengalaman, atau status tertentu. Budaya senioritas merujuk pada sistem nilai, norma, dan pandangan yang memberikan prioritas atau keunggulan kepada mereka yang lebih tua atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi dalam suatu kelompok atau masyarakat. Secara historis, banyak budaya telah memberikan perhatian yang besar pada senioritas, memuliakan dan menghormati orang-orang yang lebih tua sebagai penjaga tradisi, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Di banyak masyarakat, senioritas menjadi landasan bagi pengambilan keputusan, pengaruh sosial, dan pengakuan terhadap otoritas. Budaya senioritas mencakup berbagai aspek kehidupan sosial. Hal ini terlihat dalam berbagai bidang seperti pendidikan, politik, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Contohnya, dalam lingkungan kerja, senioritas bisa menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan, promosi, atau alokasi sumber daya.

Baca Juga: Mari Intip Galeri Cosplay Comic Frontier 17!

Budaya senioritas sebuah konsep yang umum ditemui dalam berbagai struktur organisasi, termasuk di dalam dunia fiksi seperti yang digambarkan dalam anime “Plastic Memories“. Dalam perusahaan fiksi SAI Corporation, budaya senioritas merupakan fondasi dalam dinamika internal perusahaan dan interaksi antar karakter. Anime ini dengan cermat menggambarkan bagaimana hierarki berdasarkan senioritas dapat memengaruhi hubungan antar karyawan serta pengambilan keputusan di tempat kerja.

Perusahaan SAI Corporation menggambarkan struktur hierarki yang kuat. Di mana pengalaman dan masa kerja memegang peranan penting dalam menentukan otoritas dan pengaruh seseorang di dalam perusahaan. Karyawan yang telah berada di perusahaan untuk waktu yang lama atau memiliki pengalaman yang luas cenderung menduduki posisi-posisi yang lebih tinggi. tercermin dalam hubungan antara karakter-karakter utama seperti Tsukasa Mizugaki, seorang karyawan baru, dengan supervisor dan rekan-rekannya yang lebih berpengalaman. (Nocos, 2023)

Dalam anime “Plastic Memories“, Isla dan Tsukasa memainkan peran yang khas dalam hubungan senpai-kohai mereka. Isla, sebagai seorang senpai, menampilkan karakter yang lembut, bijaksana, dan penuh perhatian. Sebagai seorang Giftia yang memiliki kecerdasan buatan, dia memiliki pengetahuan luas tentang manusia dan emosi mereka, meskipun dia sendiri terkadang kesulitan memahami perasaannya sendiri. Isla menunjukkan sisi senpai yang peduli terhadap Tsukasa. Dia berusaha memberikan bimbingan dan dukungan, meskipun dia sendiri menghadapi tantangan emosional yang besar. Kepedulian Isla terhadap Tsukasa tercermin dalam usahanya untuk membantu Tsukasa tumbuh sebagai individu yang lebih baik, sementara pada saat yang sama, dia sendiri belajar banyak dari interaksi mereka. Di sisi lain, Tsukasa sebagai kohai menampilkan semangat dan semangat yang luar biasa. Dia menunjukkan kegigihan dalam mengatasi rintangan dan ingin belajar dari Isla. Meskipun awalnya dia mungkin tidak terlalu berpengalaman atau berpengetahuan luas seperti Isla, Tsukasa menunjukkan dorongan dan tekad yang kuat untuk tumbuh dan berkembang.

Konflik yang muncul antara karyawan baru dan karyawan senior menjadi poin penting dalam menggambarkan budaya senioritas. Tsukasa, yang baru bergabung dengan perusahaannya, dihadapkan pada tantangan besar untuk beradaptasi dengan norma-norma perusahaan yang menghargai senioritas. Dia harus belajar untuk menghormati dan memahami pengalaman dari mereka yang lebih senior, sementara pada saat yang sama membawa perspektifnya yang segar dan bersemangat dalam lingkungan kerja. Dalam anime “Plastic Memories” ini ada konsep “senpai” (orang yang lebih tua/pengalaman) dan “kohai” (orang yang lebih muda/pengalaman) tercermin melalui hubungan antara karakter utama, Mizugaki (kohai) dan Isla (senpai). Meskipun awalnya sulit bagi Mizugaki untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang dipimpin oleh Isla, dia menerima bimbingan serta dukungan dari Isla. Melalui proses ini, animenya menunjukkan bahwa hubungan “senpai” dan “kohai” tidak hanya memengaruhi struktur sosial, tetapi juga menggaris-bawahi nilai-nilai seperti pertumbuhan pribadi, kerjasama, dan dukungan antar-generasi. Ini menggambarkan bahwa konsep ini bukan hanya formalitas, tetapi juga memiliki aspek emosional yang kuat yang memengaruhi dinamika hubungan antar-individu (Hirata & Warschauer, 2014).

Anime ini juga menyoroti konflik yang muncul dari perbedaan pandangan antara generasi yang lebih tua dengan generasi yang lebih muda. Perbedaan ideologi, pandangan, dan pendekatan terhadap masalah-masalah tertentu sering kali menjadi sumber ketegangan antara karakter-karakter yang mewakili kedua kelompok ini. Tsukasa, dengan semangatnya yang berapi-api, sering kali harus berhadapan dengan resistensi atau ketidaksetujuan dari rekan-rekan yang lebih senior yang lebih terikat pada cara lama dalam menjalankan perusahaan.

Namun, cerita ini juga mengilustrasikan pentingnya menggabungkan pengalaman yang dimiliki oleh karyawan senior dengan ide-ide inovatif dari generasi muda. Di tengah konflik yang muncul, anime ini menunjukkan bahwa perpaduan antara pengalaman dan inovasi dapat menjadi kunci keberhasilan di dalam perusahaan. Tsukasa, meskipun sebagai karyawan baru, membawa perspektif baru yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan di perusahaan, menggabungkan ide-ide segar dengan kebijaksanaan yang didapat dari pengalaman

Melalui dinamika yang kompleks antara karakter-karakternya, “Plastic Memories” memberikan sudut pandang yang menarik tentang bagaimana budaya senioritas dapat memengaruhi dinamika perusahaan dan interaksi antar individu. Anime ini tidak hanya menyoroti konflik yang timbul dari budaya senioritas, tetapi juga memberikan pesan bahwa kolaborasi antara pengalaman dan inovasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih dinamis dan inklusif. Dalam akhirnya, penggabungan pemikiran dari berbagai generasi dapat menjadi kunci kesuksesan dalam menghadapi perubahan dan tantangan di lingkungan kerja yang terus berkembang. (“The Seniority System in Japanese Business” oleh Masahiro Shimotani ).

Referensi

  • Nocos E. 2023. Japanese Corporate Culture [internet]. Jepang: Scaling Your Company; [diunduh Desember 2023]. Tersedia pada: https://scalingyourcompany.com/japanese-corporate-culture.
  • Hirata K, Warschauer M. 2014. Japan: The Paradox of Harmony. Connecticut (US): Yale University Press.
  • The Seniority System in Japanese Business” oleh Masahiro Shimotani – Jurnal ini membahas lebih lanjut tentang bagaimana sistem senioritas memengaruhi keputusan dan budaya kerja di perusahaan Jepang.

Baca Juga:

Ulasan Anime: Plastic Memories

Oleh Dian Agustina, Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Andalas

Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca untuk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis minimal 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan kirim ke [email protected]

Baca juga berita dan artikel BeritaOtaku yang lain di Google News, Terima kasih.